Author : kuroyuki
Fandom : Alice Nine
Pairing : ShinjixSaga
Rating : 14+
Genere : Romance, Fluff, Angst (??)
Disclaimer : Mereka punyanya ortu mereka masing-masing ^^
Pas hujan, pas libur, pas gak ada kerjaan, maka terciptalah penpik ini XD … Eh, judul englishnya bener gak sih ??
Douzo …
“Sayang, lihatlah, hujan sedang turun …”
Yah, aku tahu, hujan sedang membasahi bumi ini, ia sedang melakukan tugas mulianya, memperpanjang kehidupan pada setiap makhluk hidup.
“Sayang, dengarkanlah, suara hujan ini ..”
Indah ya? Seperti sebuah harmoni yang tercipta oleh para dewa diatas sana, begitu menyusup, memberi sensasi yang tak dapat digambarkan, namun begitu menenangkan.
Aku menjulurkan sebelah tanganku, mencoba merasakan rintik hujan dengan ujung jariku. Dingin, dan seolah mengalir bersama darah menuju jantungku, membuat detaknya tak lagi konsisten, karena satu rintik ini begitu ampuh membuka semua memori di pikiranku. Memori yang harusnya sudah terkuur dalam 3 tahun yang lalu, memori yang seharusnya tak perlu kuingat, karena hanya akan membuka lagi luka lama di hati ini.
***
Author’s POV
“Nona, kau meninggalkan ini di perpustakaan !” seorang pemuda nampak berlari kecil kearah Saga
Nona ?? Saga yakin bahwa ia yang dipanggil oleh pemuda itu, tapi apa pemuda itu begitu buta hingga tidak mengetauhi kalau dirinya adalah laki-laki ?
“Ini bukumu bukan ? Hhhh, aku sudah mengejarmu dari perpustakkan tadi, namun untuk ukuran wanita, jalanmu termasuk cepat ya ?” pemuda itu menyeka keringat di pelipisnya sambil tersenyum, tidak menyadari perubahan di wajah Saga.
“Terima kasih atas bukunya, dan maaf ,aku ini laki-laki !” ketus Saga kesal, ia pun pergi meninggalkan pria itu yang hanya terpaku menyadari kekeliruannya.
Siang hari, sepulang dari kuliah, Saga benar-benar di buat jengkel oleh alam. Bagaimana tidak? Sedari tadi cuaca nampak bersahabat dengan hangat mentari di musin semi ini, tapi kenapa tiba2 saja turun hujan ? Ck, Saga berdecak kesal, ia paling benci dengan hujan. Hujan itu muram, terasa sepi baginya, belum lagi dengan jalanan yang akan menjadi becek dan dengan mudah membuat bajunya kotor.
Saga pun berteduh di halte bus yang tak jauh dari universitasnya.
“Hujannya indah ya ?”
Saga menoleh pada pemuda yang ikut berteduh di sampingnya, ternyata pemuda yang tadi, Saga pun mengacuhkannya.
“Emmm, maaf soal yang tadi, habisnya kau terlalu cantik untuk disebut laki-laki” pria itu berkata sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal
Sebenarnya Saga pun sudah tidak mempermasalahkan kejadian tadi, toh dia juga sudah biasa di kira wanita karena paras manisnya ini, bahkan ibunya sendiri pun lebih senang melihatnya menggunakan pakaian wanita ketimbang t-shirt dengan jeans belelnya ini.
“Lupakan saja, aku sudah biasa” kata Saga ringan
“Oh,mmm , namaku Amano Shinji, kalau kau ?”
“Saga”
“Kau tinggal di jalan Gemini ya ? Aku melihat alamatmu di kartu perpustakaan, kebetulan aku bekerja sambilan di kafe dekat jalan itu. Bagaimana kalau kita pulang bersama ?”
Saga menatap Shinji heran, yang membuat Shinji tiba2 sadar dan menutup mulutnya
“Ups, maaf, sepertinya aku terlalu banyak omong
Hihihihi, lucu juga pria ini, pikir Saga
“Tapi masih hujan, aku akan menunggu sampai hujannya benar-benar reda”
Shinji mengangkat sebelah alisnya “ Serius ?? hujannya kayaknya bakal awet nih, ayolah, sudah tidak terlau deras, lagipula ini cuma hujan air kan ?”
Shinji tiba-tiba menarik tangan Saga yang membuat pemuda cantik itu terkejut, namun ia menuruti saja langkah2 pemuda yang baru dikenalnya ini menembus jalanan becek yang amat dibencinya
“Kau tau ? Hujan itu seperti dirimu, indah dan menyenangkan ..”
“Hei, jadi kau menyamakanku dengan hujan yang begitu ribut ini ?” bibirku mengerucut kesal, ia hanya tertawa dan mengacak rambutku
“Siapa yang bilang hujan itu ribut? Hujan terdengar berisik karena ia bersentuhan dengan benda lain, seperti payung dan atap rumah, tapi, coba kaudengarkan dengan seksama, maka yang terdengar hanyalah kehampaan dan ketenangan ….”
“Saga, tadi Shou mencarimu, ia ingin meminta bantuanmu” kata Shinji sambil membereskan meja terakhir di kafenya.
Hari sudah malam dan diluar hujan sedang turun dengan derasnya, shinji melirik sekilas pada Saga yang nampak asyik dengan buku bacaannya.
Sekarang Saga sering mampir di kafenya walau hanya sekedar untuk menumpang membaca dan memesan secangkir susu coklat. Katanya, dirumahnya sangat ribut dengan 2 adik laki-laki yang hobi menjahilinya dan ia tidak bisa konsentrasi membaca.
“Hei ..” Shinji menyenggol lengannya
“Iyaaa, aku dengar. Besok aku akan menemui Shou”
Shou adalah teman semasa SMA Saga dari jurusan desain yang kebetulan juga adalah langganan di kafe tempat Shinji bekerja
Saga menoleh pada Shnji.”Kafe sudah mau ditutup?”
“Iya, lagian sepi ini, aku ingin cepat pulang kerumah”
“Tapi diluar masih hujan …”
Saga setengah merengek, membuat shinji tersenyum geli. Sudah beberapa bulan ini ia mengenal Saga dan kemudian menjadi akrab dengan pemuda ini. Apalagi kesamaan hobi dalam bermusik membuat mereka makin cocok dan nyambung saat ngobrol. Tapi ada satu hal yang membuat mereka berbeda, Shinji menyukai hujan namun Saga, amat, sangat menghindari peristiwa alam yang satu ini.
“Nih, kau pakai jaketku, aku bawa motor jadi kuantar kau sampai rumah” Shinji melempar jaketnya pada Saga yang masih menatapnya dengan pandangan memohon.
“Ayoo ~” Ia menarik lengan Saga untuk bangkit, dan dengan malas Saga pun mengekor dibelakang Shinji.
***
“Wah, Saga, kau benar-benar cantik !” Shou terkagum-kagum dengan tampilan Saga saat ini, ia memang yakin bahwa gaun rancangannya ini cocok dengan ukuran tubuh ramping Saga.
“Shouu !! Ini kan gaun untuk ceweekkkk ?!!” Saga gemas melihat wajah temannya yang malah nampak puas dengan penampilan -yang menurutnya- konyol ini.
“Aku tau, tapi kau benar-benar cocok dengan gaun ini, ckckck, aku memang jenius kan ?” mata Shou berbinar-binar puas
Jenius ??! Yeah, jenius dan gila memang hanya berbeda tipis, pikir Saga kesal
“Sebentar, sepertinya ada yang kurang, tapi jangan kau lepas dulu ya ..” Shou pun menghilang dari balik pintu untuk mengambil sesuatu, meninggalkan Saga yang nampak gerah dengan gaun aneh ini.
“Shou, kau ada didalam aku mencari Sa…”
Saga menoleh pada sosok yang tiba-tiba masuk kedalam ruangan dan kemudian menatap Saga dengan pandangan takjub, ternyata Shinji.
“Apa ?! Kau ingin mengejekku kan? Ini semua ulah Shou, kalau tidak ingat dia temenku, aku pasti sudah membuang jauh gaun ini. Awas kalau sampai dia-“
Omelannya terhenti karena tiba-tiba ia merasakan sebuah belaian lembut di pipinya, dan kini shinji berada di hadapannya dengan tatapan lembut yang tak dimengerti oleh Saga
“Kau cantik …”
Bwoooshhhh …..
Saga bisa merasakan wajahnya menjadi panas, dan ia yakin mukanya pasti sudah memerah saat ini,.
Ia tersipu dan itu makin membuatnya cantik, pikir Shinji yang masih menatap lekat wajah manis itu
Sedang Saga hanya bisa membalas tatapan Shinji dan berusaha menahan lompatan jantungnya yang tak karuan. Hei, dia kan hanya Shinji ?! Kenapa kau bisa tersipu begini Saga? rutuknya dalam hati. Namun entah kenapa walau ia berusaha, ia tidak bisa juga mengalihkan pandangan matanya dari tatapn lembut Shinji saat ini.
“Kau itu cantik, seperti hujan yang turun di pagi hari, mmm, tidak, hujan di siang hari juga cantik sepertimu , atau mungkin hujan dimalam hari ?. Ahhh, yang jelas bagiku hujan yang turun kapanpun begitu cantik, dan mengingatkanku pada dirimu …”
Aku hanya tersenyum dan membenamkan tubuhku dalam pelukannya, mencoba melebur dengan detak halus jantungnya …
“Aishiteru …”
Ucapan Shinji ini membuat Saga mematung dan hanya menatap lekat sepasang mata hitam milik Shinji, mencoba mencari gurat-gurat canda atas kata-katanya barusan. Tapi nihil, yang saga lihat dari mata hitam itu hanyalah keseriusan, dan Saga tidak tau harus berkata apa saat ini
Jujur ia terkejut, senang namun juga ragu dengan pernyataan Shinji. Tentu saja ia terkejut, karena saat ini ada seseorang yang tengah menyatakan cinta padanya, dan ia senang karena ia pun menyimpan perasaan yang sama pada pemuda dihadapannya ini, tapi sekaligus juga ia ragu, dengan kenyataan bahwa mereka berdua sejenis, lalu apakah hal itu bisa ditoleransi ?
“Aishiteru, Saga ..”
Shinji mengucapakannya lagi, dan kini Saga merasa ingin menangis mendengarnya, entah mengapa, terharu mungkin.
Ia hanya bisa menunduk namun kemudian Shinji mengangkat dagunya dan mendaratkan sebuah ciuman yang manis dibibir Saga, membuat dada Saga seketika berdesir dan meruntuhkan segala pertahanannya, Saga pun meneteskan airmata.
Shinji masih menyapu bibir Saga dengan lembut, seolah meminta kepastian dari pernyataanya barusan. Dan Saga, walau dengan ragu, iapun membalas ciuman lembut Shinji dan memeluk tubuh pria itu sebagai jawabannya.
Diluar sana, sekilas Saga mampu mendengar desau hujan yang kembali turun ….
***
Saga’s POV
1 Oktober, 3 tahun kemudian …
Aku kembali duduk di kafe ini, ditempat dimana dulu aku sering memandangimu saat bekerja, walau dengan alasan membaca buku dan hanya memesan secangkir susu coklat. Disini pula, kau mengajarkanku tentang arti dari sebuah hujan. Hujan yang menurutmu menyenangkan, hujan yang kau lukiskan sebagai kecantikan alam, hujan yang kau bilang selalu mengingatkanmu padaku. Kemudian aku tersenyum miris pada diriku sendiri, dan hujan yang juga menjadi saksi saat kau meninggalkanku….
3 tahun yang lalu, karena jalanan yang licin akibat hujan, motormu tergelincir dan menabarak pembatas jalan. Kau tidak terselamatkan karena lukamu begitu parah dan akhirnya kau pergi tanpa mengucapkan apapun padaku.
Kau tau ? Aku menangis dengan keras saat itu, tapi mungkin kau tidak akan mendengarnya karena hujan sudah membawa jiwamu ke alam lain. Aku berteriak, berulangkali memanggil namamu. Aku marah pada keegoisanmu yang pergi begitu saja, terlebih setelah kau memberi sebuah cinta yang aneh namun mampu membuatku melayang ke atas awan dan setelah semua cibiran yang berhasil kita lewati, namun pada akhirnya, kau menghilang juga dari hadapanku.
Sayang, hujan yang turun adalah sebuah anugrah, seperti dirimu yang merupakan anugrah bagiku …
Aku kembali tersenyum dan bangkit ke luar kafe. Di tanggal yang sama dengan kepergianmu, hujan kembali turun dengan deras. Mungkin aku masih belum bisa menyukai hujan, karena selain kesepian yang terasa didalamnya kini bertambah lagi dengan kenangan akan dirimu yang terus muncul saat melihat hujan. Namun setidaknya, bersama hujan, aku mampu menyembunyikan tangisanku kan ?
OWARI ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar