Minggu, 11 September 2011

OBSESSION fanfic


Author : Kuroyuki

Genre : Drama, angst, yaoi

Rating : 15+

Pairing : mmmm, AoixUru ^^

Disclaimer : ane pemilik ceritanya, kalo 2 makhluk itu *ditimpuk aoiuru* yang punya PSC

Saya mencoba nulis lagi, walau masih dengan tingkat ilmu yang sama sperti kemarin, di bawah garis standar kepenulisan fanfic, hehehehe,

Douzo ….

Aku terluka, sungguh, bahkan hanya karena senyumannmu, mampu membuat perih tiba2 terasa di hati ini

Sakit … karena senyum itu bukan milikku

Pedih … karena senyum itu tak tertuju padaku

Kau tau ?? aku begitu kesal, aku marah, aku benci !!!

Tapi bukan padamu, percayalah, semua rasa negatif itu, semuanya, hanya tertuju pada suatu hal yang abstrak, sebuah status social

Hehhh !! Percayakah kau, bahwa jarak kita yang dekat, teramat dekat, tidak mampu melampaui sebuah kata rongsokan yang diciptakan oleh sekumpulan makhluk lemah, yang bahkan tak akan mampu hidup hanya dengan pakaian yang melekat ditubuh mereka. Makhluk rakus yang berhasrat menggembulkan perut mereka, kalau perlu dengan menghinakan diri mereka sendiri.

Lucu bukan ??

Mereka belajar untuk menjadi makhluk pintar, makhluk yang beretika, tapi nyatanya ??? Yang mereka pelajari hanyalah cara untuk menikmati hidup, tak peduli dengan orang lain. Lalu dengan bangganya mereka memperoleh gelar kesombongan, menerapakan cara hidup egois dan tentu saja materialistis.

Aku muak, muak pada mereka yang begitu angkuh, padahal yang mereka miliki tak lebih dari sampah dimataku, aku tak butuh harta itu, tak butuh status itu, tak butuh apapun yang mereka banggakan. Aku hanya butuh kau, cukup engkau …..

####

“Sudah saatnya, kau harus bersiap-siap ..”

“Iya, sebentar lagi” jawab seorang pemuda sambil mengikat dasi di lehernya

Wanita itu menatap pemuda dihadapannya dengan bahagia, pemuda yang merupakan putra pertamanya itu nampak gagah, terlebih hari ini adalah hari pernikahannya. Wanita itu membantu putranya merapikan dasinya

“Nanti, setelah hari ini, tentu istrimu yang akan merapikan dasimu”

Aoi menatap wajah ibunya dengan kasih

“Bu, jangan berkata seolah-olah aku tidak akan menemui ibu lagi, aku berjanji, setelah pulang dari bulan madu, aku akan langsung menemui ibu”

Wanita itu tersenyum, “Ibu tau, kau memang anak ibu yang paling baik”

Aoi memeluk ibunya, salah satu wanita yang dikasihinya selain hime, calon istrinya.

“Sudahlah, ayo kita berangkat, Hime dan keluarganya mungkin sudah sampai di gereja duluan”

“okaasan, onii-san ..”

Aoi dan ibunya menoleh ke pintu kamar, di sana nampak Uruha, adik tiri Aoi berdiri

“Ah, Uru, kau juga sudah siap ?” Aoi tersenyum pada adiknya, berbeda dengan ibunya yang langsung memasang wajah keras begitu melihat Uruha

“Kalau memang semuanya sudah siap, ayo kita pergi sekarang” Aoi nampak bersemangat, namun Uruha hanya diam dan menunduk, membuat Aoi heran

“Uru, kau sakit ?” Uruha hanya menggeleng, kemudian ia mengangkat wajahnya yang nampak menahan tangis

“o-onii san, mo-mobil Hime kecelakaan ….”

@@@

Uruha mengetuk pintu kamar Aoi perlahan, ia mengantar sarapan yang telah dilewatkan Aoi 2 jam yang lalu

“Onii-san, aku masuk ya ?”

Tak terdengar jawaban dari dalam, tapi Uruha tetap masuk, ia yakin Aoi sebenarnya sudah bangun, namun enggan untuk menjwabnya

Uruha melihat Aoi berbaring membelakanginya, ia kemudian meletakkan senampan sarapan di meja kamar Aoi, sebenarnya ia ingin mengatakan sesuatu, tapi melihat keadaan Aoi yang seperti tidak ingin di ganggu, ia pun mengurungkannya,

Sudah seminggu lebih Aoi mengurung diri dan bersedih di kamarnya, kematian Hime, wanita yang dicintainya, membuatnya begitu terpukul. Ia sangat shock, masih terekam jelas di ingatannya wajah diam dan tubuh kaku kekasihnya itu lengkap dalam balutan gaun pengantin yang juga penuh dengan bercak darah. Tubuhnya terkulai lemas, ia hanya berharap kalau semua itu hanyalah mimpi buruk atau sekedar lelucon yang dibuat oleh Hime untuk mengerjainya. Namun tidak ada yang membangunkannya, juga tidak ada wajah puas Hime setelah berhasil mengerjainya, wajah manis itu tetap terlelap dalam tidur abadinya, menyadarkan Aoi bahwa segalanya adalah kenyataan, yang begitu menyedihkan …

“Oniisan, kau harus makan ..” Uruha menggoyang-goyangkan tubuh kakaknya perlahan.

Ini sudah hari ke-10 Aoi mengurung diri didalam kamarnya, dan selama itu pula tidak ada makanan yang masuk dalam perutnya. Uruha sangat menghawatirkan keadaan Aoi, wajahnya sudah pucat, ada lingkaran hitam yang tebal di bawah matanya, Aoi seperti berubah menjadi mayat hidup yang terkapar begitu saja di atas tempat tidurnya.

“Ayolah, kau harus makan walau sedikit” paksa Uruha. Aoi tetap diam

Uruha mencoba memasukkan sesuap bubur kemulutnya, tapi aoi tetap bergeming. Uruha masih terus berusaha agar Aoi membuka mulutnya, tapi mulut itu seperti terkunci dengan rapat, dan mungkin kesal karena paksaan Uruha, Aoi malah mengebas mangkuk yang ada di tangan Uruha. Membuat isinya berceceran ke lantai. Uruha terkejut namun kemudian ia berubah jadi kesal

“Baik, terserah kalau Oniisan mau seperti ini selamanya, tidak usah makan, dan tidak usah peduli lagi pada aku ataupun ibu, teruslah bersedih dan kalau perlu susulah Hime ke alam sana. Kita lihat, apa Hime masih akan bangga pada kekasihnya yang telah berubah menjadi pengecut !!!” Uruha keluar dan membanting pintu kamar Aoi, ia tidak melihat bahwa tetes demi tetes air mata Aoi mengalir, kata-kata Uruha barusan seperti menampar alam sadarnya, menariknya kembali dari kubangan kesedihan yang ia buat selama ini…

@@@

Satu bulan kemudian ….

Aoi menyusuri lorong rumah sakit dengan terburu-buru. Barusan Uruha menelponnya, mengabarkan bahwa ibu masuk rumah sakit, terjatuh dari tangga.

Kamar 203, Shiroyama Yue. Aoi membukanya, dan nampak Uruha dan dokter berdiri di samping tempat tidur ibunya yang terlelap

“Oniisan ..”

“Bagaimana keadaan ibu ?” Tanya Aoi sambil memperhatikan kondisi ibunya, ada balutan perban di kepalanya, selang infuse dan juga alat bantu pernafasan yang kini melengkapi sosok ibu terkasihnya itu.

“Tuan Shiroyama, ibu anda saat ini tidak sadarkan diri, ada beberapa tulangnya yang patah, dan kemungkinan juga ada pendarahan di otaknya akibat benturan, secepatnya kami akan memeriksa dan memberikan hasilnya pada anda” kata-kata dokter itu membuat Aoi lemas, di sampingnya, Uruha menggenggam lengan Aoi, seperti ingin menyalurkan tenaga agar Aoi tidak tiba-tiba terjatuh.

“Sebenarnya apa yang terjadi ?” Tanya Aoi masih menatap wajah ibunya,

“Aku tidak tau, aku baru pulang dari rumah teman, dan kemudian kulihat tubuh ibu tergeletak di bawah tangga, para pembantu sedang sibuk di dapur, jadi tidak ada yang menyadarinya sampai aku datang”

Aoi terdiam sesaat, “Baiklah, kau pulang saja, biar aku yang menjaga ibu” kata Aoi

“Tidak, biar aku yang menjaganya, kau sudah lelah dengan pekerjaan kantormu, lebih baik kau saja yang pulang, jangan khawatir, aku akan menjaga ibu dengan baik” bantah Uruha

Aoi menatap wajah adik tirinya itu, Uruha memang selalu seperti ini, selalu menghawatirkan dirinya dan ibu, padahal perlakuan ibu padanya tidak bisa dibilang baik, namun Uruha selalu berusaha berbuat yang terbaik bagi ibu.

“Terimakasih Uru”

“Hei, aku kan juga anak ibu” balas Uruha tersenyum.

@@@

Pendarahan dalam otak, ternyata benar, itulah yang membut ibunya tak sadarkan diri sampai saat ini. Hanya bunyi mesin di meja yang terletak disamping tubuh ibunya yang menandakan masih ada harapan untuk kesadaran wanita itu kembali, walau tipis harapannya. Aoi menarik napas panjang, sampai kapan semua kesedihan akan pergi dari dirinya, kenapa tidak ada satupun yang berjalan sesuai dengan keinginannya. Aoi menangkupkan wajahnya dalam kedua tangannya, ia lelah , sangat lelah. Begitupun dengan Uruha yang melihat kakak tirinya itu begitu menderita, mungkin memang harus diakhiri saat ini juga, pikirnya.

@@@

Aoi’ POV

Tuhan, Kenapa kau lakukan ini padaku ?? Masih belum cukupkah kau ambil Hime dari sisiku ??! Dan sekarang kau ambil pula ibuku ?!

Aku hany bisa terduduk lemas ketika dokter mengabarkan kematian ibu. Malam itu, tiba-tiba saja kondisi ibu kritis, dokter tak mampu lagi menyelamatkannya, membuat diriku harus kembali mengalami peristiwa kehilangan lagi. Dan membuat air mata ini mengalir lagi.

“Oniisan ..” kutatap wajah Uruha yang sudah penuh air mata, satu-satunya keluargaku yang tersisa. Kurengkuh ia dalam pelukanku, mencoba memberinnya ketenangan yang aku sendiri pun bingung untuk mendapatkannya saat ini. Akupun kacau saat ini.

Dapat kurasakan isak tangis Uruha dalam pelukku, ia pasti juga merasa sangat kehilangan ibu, “SShhh, tenanglah, aku yang akan menjagamu mulai saat ini, karena sekarang yang tertinggal hanya kita berdua ….”

@@@

Uruha’ POV

Aku masih berada dalam pelukan Aoi, kakak tiriku.

Astaga, setelah sekian lama akhirnya aku bisa merasakan kembali lengan kokohnya yang memelukku, dan mungkin aku harus berterima kasih atas kematian nenek sihir itu, karena dengan begitu aku bisa kembali mencium wangi parfum khas Aoi.

Apa tadi Aoi bilang, menjagaku ? Yah, aku tidak perlu meragukan itu. Dari dulu, ia selalu menjagaku, mengasihiku layaknya seorang adik kandung dan membelaku dari perlakuan-perlakuan jahat ibunya, ah, well, aku menyebutnya sebagai nenek sihir. Cuma Aoi yang menganggap keberadaanku, cuma ia yang memberiku makan diam-diam saat nenek sihir itu mengurungku berhari-hari di gudang hanya karena lupa merapikan tumpukan sepatu di rak saat kami kecil dulu.

Hhhh, nenek sihir itu membenciku, sangat membenciku, itu karena aku adalah anak haram dari suaminya dengan wanita simpanannya, yang tak lain adalah ibuku. Kebenciannyalah yang membuatnya tega memaki, menghajar dan menyiksa bocah 9 tahun hanya karena kesalahn-kesalahan kecil. Siksaan yang meninggalkan cukup banyak bekas di tubuhku, yang tidak pernah diketahui oleh Aoi karena aku selalu diam dan menutupinya dari Aoi yang baik hati, sama seperti aku menutupi dendam yang tertumpuk berpuluh tahun dalam hatiku. Dendam atas penderitaan ibuku. Dendam yang mampu membuatku meletakkan ceceran minyak di tangga dan membuat nenek sihir itu terpeleset jatuh, namun sayang, semua itu belum cukup untuk membuatnya pergi dari dunia ini, sehingga aku harus menyelesaikan semua itu di rumah sakit. Aku tidak tau kabel atau selang apa yang sudah kucabut, namun yang jelas keeesokan harinya kabar gembira itu datang, penyihir itu telah pergi, untuk selamanya, dan aku tidak perlu lagi berpura-pura menjadi anak penurut yang baik hati pada ibu tirinya.

Aoi masih memelukku, ia mengelus-elus punggungku yang menggigil karena isak tangisku -yang tentu saja palsu- membuatku benar-benar merasa nyaman. Dulu, ketika aku merasa sedih Aoi akan segera memberi pelukan hangatnya dan menghiburku, namun sejak ada hime, kekasihnya, ia mulai sering mengabaikanku, membuatku mempunyai satu lagi nenek sihir yang harus kulenyapkan. Karenanya, malam sebelum acara pernikahan aku diam-diam menyelinap kerumah Hime, membuat ‘beberapa perubahan’ pada mesin mobilnya dan voilaa …!! Hime tewas seketika, mengembalikan Aoi padaku lagi.

Dari dulu aku selalu meyakini, bahwa cinta ibuku pada ayah Aoi tidak lah salah, begitu pula dengan cintaku saat ini pada Aoi, tidak ada yang salah, hanya karena waktu yang menempatkan kami dalam keadaan seperti ini, Aoi laki-laki, begitu pula denganku. Tapi aku tidak peduli, aku mampu melenyapkan beberapa nyawa untuk membuatku hanya berdua dengan Aoi di dunia ini, lalu, kenapa aku harus kalah dengan sebuah status ?

Semua sudah selesai Aoi sayang, sekarang hanya tinggal kita berdua, hanya kau dan aku ….


ni fanfic udah q post di fb sih, tapi lumayana bwt ngisi ni blog ....

4 komentar:

  1. sudah kuduga itu ulah Uruha~wkwkwkwkwk

    >.<
    ganbare, neechan ^_____^

    BalasHapus
  2. sugoiiiiiiiii >w< uru psikopat wkwkwk i like it :) arigatou udah bikin aoixuru ^^

    BalasHapus